Chapter 0.00: The Others

Editor & ProofReader: WindTravel


Chapter 0.00
Prolog: The Others

Setiap orang memiliki pandangan mata yang sama di mata mereka.

Di bawah matahari pagi, orang-orang berlalu-lalang di jalanan bergerak menuju tujuan mereka masing-masing — sebuah pemandangan biasa di kota yang tidak berbeda pada umumnya. Tetapi, pemandangan tersebut kekurangan unsur realisme pada skenarionya. Terutama akibat pupil mata tanpa nyawa yang mereka miliki, bagaikan manik kaca, yang membuat mereka terlihat bagaikan sebuah kumpulan besar boneka kosong berjalan.

—- Melihat ke samping —-

Melalui jendela sebuah kafe, dapat terlihat seorang gadis dengan mata yang bagai buatan. Sang gadis yang sedang dalam masa remajanya tersebut memiliki gaya potongan rambut pendek. Gadis remaja tersebut tampak tidak menyadari bahwa wujud yang dipantulkan oleh jendela adalah dirinya sendiri di kenyataan.

Memalingkan pandangannya menjauh dari jendela, dia kembali berjalan.

Tidak ada yang perlu dia pikirkan tentang pergi ke mana atau dari mana dia berasal karena setiap kesadaran diri tidak diperlukan “di sini”.

Di dinding yang dia lewati, terdapat sebuah grafiti besar tertulis di atasnya.

[East – 33 GARDEN]

Sang gadis berhenti.

Di seberang jalan, dapat terlihat sebuah stasiun kereta.

Dia tidak yakin  apa alasan dia tiba-tiba berhenti…. Jika dia mengingat dengan benar, dia perlu berbelok di sini….

Tetapi, dia merasakan rasa sakit yang mencengkram di dadanya… seraya dia menatap melewati stasiun tersebut – ke langit yang dicerahkan dengan perlahan oleh mentari pagi.

Meskipun sang gadis tidak dapat memikirkan apapun apa yang ada di arah tersebut, dia tetap mengarahkan tatapannya ke suatu titik di kaki langit, tidak berpaling sedikit pun.

“Selama empat tahun ini…”

Sebuah suara tiba-tiba terdengar di belakangnya.

Ketika sang gadis berbalik, di sana terdapat seorang wanita dengan postur badan tinggi. Kacamata hitam bundar sempurna yang terdapat di wajahnya dan jubah bewarna merah tua yang dia kenakan berkilauan dengan cerahnya di bawah pantulan sinar matahari pagi.

Dia dapat merasakan rasa sakit yang menjalar di dadanya sekali lagi.

Wanita yang ada dihadapannya pasti seseorang yang dia kenal… Tetap saja, dia tidak dapat mengingat kapan atau di mana mereka pernah bertemu sebelumnya atau pun berniat untuk mengingatnya kembali.

Wanita tersebut menundukkan kepalanya untuk melihat sang gadis dan berkata sambil tersenyum,

“Selama empat tahun ini, apakah kamu selalu seperti ini? Tidak berpikir apapun dan berharap apapun….”

“Begitu… Sangat disayangkan. Padahal mimpimu sangatlah enak. Tetapi tidak apa-apa. Karena kamu pasti akan segera mengingatnya, kan?”

Sebuah suara menggema kecil dari sisi sang gadis.

Mengalihkan pandangannya, dia menyadari sebuah sosok aneh yang terlihat berdiri di antara kerumunan pelajar dan pekerja kantoran. Dilihat dari badannya, kemungkinan orang tersebut seorang perempuan. Dia mengenakan kacamata pelindung besar yang menutupi setengah wajahnya dan sebuah jubah hitam gelap panjang.

“Hei, apa yang kamu lakukan di sana?”

Sosok berkacamata pelindung tersebut melangkah maju ke arah sang gadis. Pertanyaannya bukan diarahkan kepada sang gadis tapi kepada wanita yang berada di sampingnya.

Si wanita berjubah merah tua melepaskan tangan sang gadis.

“Seorang pengawas dari Biro Khusus Pelestarian Lingkungan, yah? Apa kamu yang bertugas untuk mengawasi anak ini?”

“Aku yang memberikan pertanyaan di sini. Jika kamu tidak menjauh dari gadis itu atau mematuhi perintahku….”

Seketika, seekor kupu-kupu muncul entah dari mana dan mendarat di bahu sosok berkacamata pelindung tersebut. Seekor kupu-kupu yang memiliki sepasang sayap seputih salju.

“Ya ampun, Mushi-mu ternyata juga memiliki bentuk ini? Sungguh… kebetulan!”

“…. Apa maksud dari perkataanmu itu?”

Memalingkan tatapannya dari sosok perempuan berkacamata pelindung yang penuh curiga, wanita tersebut menghadap sang gadis dan berkata,

“Hal-hal yang kamu ingin lakukan, tempat-tempat yang kamu ingin kunjungi, sekarang kamu bisa bertindak berdasarkan perasaanmu. Di lain waktu kita berjumpa, maukah kamu memberitahuku mimpimu lagi?”

Di mata sang gadis, perasaan mulai tampak keluar…. Meskipun dia tidak mengerti apa yang wanita berkacamata hitam katakan, dia dapat merasakan sebuah kekuatan tak diketahui mendorong dirinya….

Kaki sosok berkacamata pelindung yang melangkah maju tiba-tiba berhenti bergerak.

Wanita dengan kacamata hitam bundar sempurna menjulurkan tangannya. Di ujung jarinya, sebuah kupu-kupu yang ditutupi dengan pola yang penuh warna mendarat.

Terkejut, sosok berkacamata pelindung terdiam dengan segera.

Mushi itu…!! Tidak mungkin! Kamu Oogui…?!”

“Kelihatannya kamu memiliki mimpi yang cukup lezat juga, hmm?”

Kupu-kupu yang berada di ujung jari wanita tersebut tiba-tiba mulai berubah. Ditemani oleh suara retakan yang terus-menerus, ukuran sayap indahnya mulai membesar.

“Hei, bisakah kamu memberitahukanku mimpimu juga?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s